Raja Salman Turun Tahta, Putra Mahkota Mohammed Bakal Pimpin Arab

Hampir tiga tahun memimpin Arab Saudi sejak 23 Januari 2015 sepertinya dianggap cukup bagi Raja Salman. Karena sejak akhir pekan ini, sejumlah media di dataran Arab ramai-ramai memberitakan bahwa raja berusia 81 tahun itu akan lengser dari tahta dalam waktu dekat. Untuk penerusnya adalah sang Putra Mahkota yang juga anaknya, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).

 

Kabar yang diungkapkan oleh saluran TV Iran, Press TV pada Rabu (16/11), pengumuman lengsernya Raja Salman akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. “Perkembangan yang telah diperkirakan menandai perubahan urutan tahta di Arab Saudi dari garis lateral saudara laki-laki tua ke tatanan vertikal. Di mana raja menyerahkan kekausaan kepada anak kesayangannya,” seperti dilansir CNN Indonesia.

 

Hanya saja kabar yang berhembus itu tidak ditanggapi oleh pemerintah Riyadh sehingga belum bisa dipastikan. Informasi lengsernya Raja Salman ini sudah berhembus sejak Juli 2017. Saat itu Raja Salman mengganti posisi Putra Mahkota dari keponakannya, Mohammed bin Nayef ke anaknya. Lalu kemudian di bulan September 2017, radio Al-Manar di Lebanon memberitakan bahwa Raja Salman akan segera mundur karena masalah kesehatan.

 

Bicara mengenai sosok MBS, pria berusia 32 tahun itu memang kerap jadi sorotan karena aksinya. Salah satunya adalah saat sekitar 40 anggota keluarga kerajaan Arab Saudi termasuk Pangeran Al Waleed bin Talal, sejumlah menteri, pejabat militer dan pengusaha ditangkap atas perintah KPK Arab Saudi yang dipimpin MBS. Hingga pada akhir Oktober 2017, MBS berencana mengembalikan Arab Saudi menjadi Islam moderat termasuk mengakhiri ekstremisme. Hal ini tentu sejalan dengan keputusan pemerintah untuk mencabut larangan perempuan mengemudi mulai Juni 2018.

 

Dubes Arab Saudi di Jakarta Bantah Raja Salman Lengser

 

Situs pemberitaan Arab News sepertinya memilih tak berkomentar soal kabar mundurnya Raja Salman dari tahta. Mereka hanya memberitakan bahwa sang raja poker akan berpidato pada Sidang Ketujuh Dewan Shura pada bulan Desember mengenai kebijakan dalam dan luar negeri Saudi.

 

Sementara itu Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta malah membantah kabar turunnya Raja Salman dari tahta pekan depan. “Pemberitaan itu tidak benar dan semuanya hanya rumor,” jelas Atase Pers Kedubes Arab Saudi di Jakarta, Fawwaz Abdullah Al Othaimin hari Jumat (17/11). Hanya saja pihak Kedubes enggan untuk menjelaskan lebih lanjut.

 

Skandal Korupsi di Kerajaan Arab Saudi

 

Pada awal November 2017, Arab Saudi diguncang oleh skandal korupsi yang akhirnya membuat Raja Salman mengeluarkan dekrit kerajaan mengenai pembentukan Komite Anti Korupsi yang dikepalai MBS. Bahkan komite itu sudah menahan sebelas pangeran, empat menteri dan puluhan mantan menteri. Dekrit itu juga mengungkapkan bahwa ada dua menteri baru di bidang keamanan dan ekonomi.

 

Perubahan kabinet ini membuat Pangeran Miteb bin Abdullah tergeser dari posisi Kepala Garda Nasional dan digantikan oleh Khaled bin Ayyaf. Sementara itu Menteri Ekonomi yakni Adel Fakieh digantikan oleh wakilnya sendiri, Mohammed al-Tuwaijri. Untuk Miteb sendiri bahkan cukup ironis karena dia sempat digadang-gadang sebagai pengganti tahta Raja Salman. Sebagai pemimpin Tentara Nasional, Miteb adalah tentara elit Arab Saudi yang dibangun dari unit suku lokal yang telah dijalankan ayahnya selama 50 tahun lamanya.

 

Untuk Tuwaijri, pilot angkatan udara Saudi ini pernah jadi Kepala Eksekutif HSBC Timur Tengah dan berhasil memimpin program Kementrian Ekonomi dan melakukan privatisasi aset pemerintah sebesar USD 200 miliar (sekitar Rp 2.702 triliun).