Pendeta Diserang Buaya Saat Membabtis

Terjadi peristiwa menggegerkan di tepi Danau Abaya, Ethiopia, yaitu tewasnya seorang pendeta akibat diserang buaya. Musibah ini terjadi saat sang pendeta tengah membabtis seseorang di tepi danau tersebut. Sebagaimana yang dilansir oleh BBC via Daily Mirror, pada selasa 2/6/208 pendeta bernama Docho Eshete tengah melaksanakan pembabtisan pada hari minggu 3/6/2018.

 

Saksi mata seorang warga lokal, Ketema Kairo mengatakan bahwa Eshete pada saat itu sudah usai menjalankan upacara babtis kepada seorang jemaat. Seekor buaya seketika melompat dan menyerangnya saat ia tengah menuju ke anggota poker88 jemaat lain. Hadirin pun terkejut sementara nelayan setempat dengan sigap menebarkan jala untuk menolong  pendeta berumur 45 tahun tersebut.

 

Danau Abaya adalah habitat buaya Nil yang agresif

Jala tersebut dimaksudkan untuk mencegah buaya membawa tubuh sang Pendeta ke perairan yang jauh. Upaya ini sesungguhnya berhasil  tapi sudah terlambat karena Eshete sudah meninggal dunia. Ini karena luka parah yang dideritanya akibat gigitan buaya pada tangan, kaki, dan punggungnya. Mereka yang hadir pada acara itu pun merasa sangat terguncang.

 

Pemandu wisata dari Lonely Planet mengemukakan pendapatnya atas peristiwa tragis tersebut. Danau terbesar kedua di Ethiopia itu memang mempunyai panorama yang indah sekaligus merupakan habitat buaya besar yang buas dan agresif tak hanya dengan mangsanya tetapi juga manusia. The Independent melaporkan, buaya yang menerkam pendeta itu diketahui berjenis buaya Nil yang beratnya bisa mencapai 1 ton sementara panjangnya sampai 6 meter.

 

Spesies buaya itu yang dipercaya telah melakukan penyerangan kepada 300 manusia setiap tahunnya di Afrika.

 

Penyebab buaya menyerang manusia

Tak berbeda jauh dengan di Afrika, beberapa tahun terakhir ini serangan hewan buas kepada manusia juga semakin sering terjadi. Salah satunya adalah dua orang yang tewas diterkam buaya di Sungai Muara Jawa Ulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Buaya yang menewaskan dua orang dengan salah satunya pawang buaya tersebut berjenis Crocodilus porosus atau buaya muara.

 

Hellen Kurniati, peneliti pada Pusat Penelitian Biololgi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa alasan terjadinya serangan ini karena sumper pakan alaminya, yaitu ikan sungai telah semakin menipis sehingga sulit ditemukan. Penyebabnya adalah penangkapan ikan dalam jumlah besar oleh  manusia.

 

Musim kawin  buaya adalah di bulan Agustus hingga Oktober atau saat musim kemarau. Pada masa tersebut buaya juga lebih sensitive sehingga lebih mudah menerkam manusia. Bila sudah pernah  memangsa manusia, Hellen menyarankan agar buaya tersebut segera ditangkap dan dimasukkan penangkaran karena tak lagi tertarik dengan mangsa alaminya, atau ikan.

 

Dengan begitu ia kembali memburu manusia. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi bila hewan purba tersebut menerkam manusia. Yang pertama buaya akan menelan habis jasadnya , dan kedua tubuhnya akan dirusak. Bila buaya lapar maka mangsanya akan ditelan sampai habis, tapi jika tidak, manusia yang diserang tersebut akan dipatahkan tulang-tulangnya dan ditinggal begitu saja.

 

Dari data yang tercatat tentang kasus serangan buaya kepada manusia di Kalimantan Timur, 33 korban meninggal dunia, sementara 18 sisanya mengalami luka parah.

 

Tentu tak ada orang yang ingin mengalami nasib semalang pendeta Docho Eshete di atas, tapi bila harus berhadapan dengan buaya dan berpotensi menjadi sasaran serangan, yang harus dilakukan adalah menghindari sungai atau kolam tempat habitatnya. Seandainya terpaksa harus berenang, lakukan dengan tenang dan tak menarik perhatian buaya. Bagian mata adalah yang paling lemah dari buaya dan dengan mencolok matanya Anda bisa mendapat kesempatan untuk kabur bila tiba-tiba diserang.