Momen Waisak: Biksu Ingatkan Terorisme dan Perbedaan

Momen Waisak kali ini sedikit berbeda dari momen Waisak pada tahun sebelumnya. Misalnya saja di Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya yang memanfaatkan momen perayaan Waisak  2562 BE.2018 Masehi ini untuk mengingatkan bangsa Indonesia bahwasanya terorisme dan juga radikalisme berawal dari pikiran manusia yang buruk.

Terorisme Berawal dari Pikiran yang Buruk

Sukemo, selaku Kepala Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya, menyampaikan pesan damai antiterorismenya dan antiradikalismenya ini tercermin dalam tema perayaan Waisak dari Sangha Theravada Indonesia (STI) pada tahun ini.

“Sesuai dengan tema kita tahun ini, ‘Bertindak, Berucap, Berpikir Baik Memperkokoh Persatuan Bangsa.’ Semua hal yang ada di dunia bermula dari pikiran,” ungkap Sukemo ketika dirinya ditemui oleh wartawan dan dilansir dari CNN Indonesia di Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Selasa (29/5) ini.

Ia menjelaskan apabila pikiran baik, maka ucapan dan juga perbuatan seseorang bakal baik. Akan tetapi jika pikiran buruk maka ucapan dan juga perbuatan juga akan buruk. Ia sendiri menyayangkan rangkaian aksi terorisme yang mana terjadi beberapa waktu belakangan ini di beberapa daerah di Indonesia. menurut dirinya, aksi tersebut didasari oleh kebencian dan juga rasa ingin membalas dendam yang memenuhi diri dan pikiran mereka.

“Aksi terorisme itu sendiri berawal dari pikirannya yang buruk. Berawal dari kebencian dan juga dendam sehingga ia mau meledakkan dirinya sendiri,” katanya. Ia juga menekankan bahwa agama apa pun selalu diawali dengan pikiran yang baik. Sehingga terorisme bukan lah permasalahan yang mana didasari ajaran agama mana pun.

“Agama apapun awalnya dari pikiran, bukanlah hanya Buddha. Islam, Kristen, Hindu, Katolik, Konghucu, dan semuanya mengajarkan pikiran baik,” tukasnya.

Biksu Tadisa Ajak Merangkul Perbedaan

Tiap manusia mesti merangkul sesamanya yang mana berbeda-beda dalam menjalani kehidupan sehari-hari supaya bisa terwujud keindahan hidup bersama-sama. Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Umat Buddha Indonesia, Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira, dalam merangka perayaan Waisak tahun ini.

“Harus lah saling merangkul dengan yang berbeda supaya kita bisa hidup bersama menjadi indah,” ungkapnya di Magelang saat ditemui oleh wartawan pada hari Selasa (29/5). Ia pun mengemukakan pentingnya manusia tak terjebak di dalam perbedaan, dalam upaya mencapai kebahagiaan kehidupan agen judi bola baik secara pribadi ataupun bersama.

Menurut Tadisa, perbedaan harus didasari pada kodrat manusia. “Tetapi jangan melakukan pembedaan karena kita sudah beda. Dalam keluarga pun memang kita sudah beda-beda,” ujarnya lagi.

Sementara itu, perayaan Trisuci Waisak 2018 mengambil tema yang mana berjudul ‘Transformasi Kesadaran Delusi Menjadi Kesadaran Murni.’ Hari Trisuci Waisak ini dirayakan oleh umat Buddha yang mana digunakan untuk memperingati 3 peristiwa penting dalam ajaran Buddha yaitu kelahira Sidharta Gautama, lalu Buddha Gautama mencapai penerangan yang sangat sempuran, kemudian yang terakhi adalah parinibana atau Sang Buddha yang mangkat.

Puncak dari perayaan Waisak 2018 ini terjadi pada hari Selasa malam, yakni jam 21.19.13 WIB, dengan ditandai meditasi selama beberapa saat oleh para umat Buddha bersama dengan para biksu sangha Walubi yang ada di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sementara itu, untuk umat Buddha di Sumatera, perayaan Waisak 2018 ini sendiri dipusatkan di Komplek Percandian Muarojambi yang bertempat di Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Dan dipastikan tempat itu akan menjadi pusat kegiatan perayaan Hari Waisak 2562 BE yang bakal digelar hari ini, Selasa (29/5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *